Tidak mudah menghadapi ujian hidup. Di tengah kehidupan seringkali masalah datang bertubi-tubi. Satu kerikil yang menghalangi jalan saja akan terlihat seperti batu besar, setiap orang yang ditemui pun seolah-olah tak pernah menampakkan wajah sumringah atau bahkan sikap merekapun sangat membuat hati dan pikiran kacau. Membuat emosi tingkat tinggi yang menyebabkan ceracau keluar tak terhentikan. Semua hal negatif seolah tampil di depan mata. Adakah yang bisa menolong? Teman, rekan kerja atau siapa saja? Ahai ... seringkali tak pernah ada yang sanggup menolong. Temanmu tak bisa memberi nasehat? Bisa, tapi yang keluar seringkali mengkritik dan menyakitkan hati. Berarti temanmu itu buruk kualitasnya? Itulah kita hanya bisa menyalahkan pada akhirnya. Hari ini, saya melihat semua orang melihat saya dengan tatapan penuh dengan hinaan, mereka bisik-bisik di sekitar saya karena saya memarahi anak saya yang malah main game pada saat daring, repotnya lagi anak saya mengajak adiknya yang baru tiga tahun untuk ikut bermain. Sementara si adik belum bisa membaca yang menyebabkan sering nangis, yang pada akhirnya pula tidak bisa saya "sambi" bekerja karena harus repot lihat hp dan nangis terus. Semua buruk rasanya. Tak kuat rasanya, lelah dan tak tau harus bagaimana. Akhirnya yang bisa saya lakukan hanya menangis, berharap Tuhan datang sekarang. Itulah kepasrahan yang melegakan. Jika hal sesimpel ini bisa saya lakukan untuk mengharapkan pertolongan Tuhan, kenapa tidak selalu saya lakukan, kenapa sering kali saya lupa? Sederhana "penyerahan diri total"
Ada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar